Jamkrindo

Warga Venezuela Diliputi Ketidakpastian Saat Rencana Pemerintahan Trump Mulai Terungkap

Oleh Zahra Zahwa pada 05 Jan 2026, 18:56 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Warga Venezuela menghadapi ketidakpastian besar setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai mengungkap rencananya terhadap negara Amerika Latin tersebut. Situasi memanas usai Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat kini “mengendalikan” Venezuela, menyusul penahanan Presiden Nicolás Maduro dalam operasi militer pada akhir pekan.

Maduro ditangkap bersama istrinya, Cilia Flores, dalam penggerebekan militer pada Sabtu dini hari. Keduanya kemudian diterbangkan ke Amerika Serikat dan dijadwalkan menjalani sidang perdana di New York. Maduro dituduh bersekongkol dengan jaringan narkoteroris untuk mengirim ribuan ton kokain ke Amerika Serikat.

Pernyataan keras Trump memicu kebingungan, bahkan di internal pemerintahannya sendiri. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa Washington lebih memilih menggunakan tekanan politik dan diplomatik terhadap Venezuela, bukan secara langsung menjalankan pemerintahan negara tersebut seperti yang sempat disampaikan Trump dalam konferensi pers.

Sementara itu, warga Venezuela memilih bertahan di rumah sambil menunggu kejelasan arah kebijakan AS. Menurut sejumlah pejabat Amerika, pemerintahan Trump bergerak cepat membentuk pemerintahan sementara yang patuh, dengan fokus utama pada stabilitas administrasi dan pemulihan infrastruktur minyak, bukan pada transisi demokrasi secara langsung.

Dalam konteks ini, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menjadi sorotan. Ia disebut-sebut sebagai alternatif sementara yang dapat diterima Washington. Meski sempat mengecam keras penangkapan Maduro, Rodríguez kemudian melunakkan sikapnya dan menyerukan kerja sama dengan Amerika Serikat.

Di Washington, reaksi politik terbelah. Partai Demokrat mengkritik operasi militer yang dilakukan tanpa persetujuan Kongres, sementara sebagian besar Partai Republik mendukung langkah tersebut. Ketua Komite Intelijen Senat, Tom Cotton, menyatakan bahwa pemilu baru yang “sah” kemungkinan akan menjadi langkah berikutnya.

Isu minyak menjadi perhatian utama. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, namun infrastrukturnya rusak parah dan membutuhkan investasi besar untuk kembali ke produksi maksimal. Meski Rubio membantah operasi ini bertujuan membuka akses bagi perusahaan minyak AS, ia mengakui minat besar dari perusahaan energi Barat. Namun, banyak pihak menilai pemulihan sektor minyak mustahil tanpa stabilitas politik.

Soal kepemimpinan, Trump menyatakan AS akan “menjalankan” Venezuela hingga transisi yang aman tercapai. Rubio kemudian menegaskan bahwa yang dimaksud adalah pengendalian kebijakan strategis, bukan pemerintahan langsung. Di sisi lain, Rodríguez kini menjalankan tugas sebagai presiden sementara dan menyerukan dialog dengan AS.

Pemerintahan Trump menolak mendukung tokoh oposisi María Corina Machado, meski pihak oposisi menegaskan bahwa kandidat mereka, Edmundo González, adalah pemenang sah pemilu 2024. González bahkan menyerukan militer Venezuela untuk menempatkannya sebagai presiden.

Dampak regional pun mengemuka. Trump melontarkan ancaman terhadap Kolombia, menyinggung Meksiko, serta kembali mengomentari Kuba dan bahkan Greenland. Kuba mengecam keras operasi AS dan menyebutnya sebagai terorisme negara, dengan laporan korban warga negaranya dalam serangan tersebut. Di dalam negeri Venezuela, kondisi relatif sunyi. Warga hanya keluar rumah untuk kebutuhan pokok, antrean panjang terlihat di supermarket dan apotek. Pendukung oposisi merayakan secara tertutup, sementara media pemerintah menayangkan pesan perlawanan terhadap Trump.