Jamkrindo

Wilmar Dorong Akses Pendidikan Anak di Kawasan Perkebunan Sawit

Oleh Dwi Natasya pada 09 Jan 2026, 10:51 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Di tengah hamparan perkebunan kelapa sawit, berdiri bangunan sekolah dengan fasilitas yang tak kalah dari sekolah unggulan di kawasan perkotaan. Pemandangan ini terlihat di Sekolah Bina Bangsa 02 yang berlokasi di area PT Karunia Kencana Permaisejati, Wilmar Group, Desa Kenyala, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Sekolah tersebut dikelola oleh Yayasan Bina Bangsa di bawah naungan Wilmar Central Kalimantan Project. Keberadaannya menjadi bukti komitmen Wilmar Group dalam menghadirkan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak di lingkungan perkebunan.

Koordinator Yayasan Bina Bangsa, Siti Wahyuni, menjelaskan bahwa perhatian perusahaan terhadap pendidikan dilandasi oleh keyakinan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak. Pendidikan dipandang sebagai fondasi penting dalam menyiapkan generasi masa depan.

Menurutnya, anak-anak sebagai generasi penerus bangsa perlu dipersiapkan sejak dini agar mampu menghadapi tantangan ke depan. Oleh karena itu, Wilmar berupaya menyediakan sarana pendidikan yang memadai, meskipun berada jauh dari pusat kota.

Saat ini, Yayasan Bina Bangsa mengelola total 20 sekolah di Kalimantan Tengah yang terdiri dari delapan Taman Kanak-Kanak, enam Sekolah Dasar, tiga Sekolah Menengah Pertama, dan tiga Sekolah Menengah Atas. Seluruh sekolah tersebut tersebar di tiga lokasi berbeda, dengan jumlah siswa mencapai 6.004 anak dan didukung oleh 289 tenaga pengajar.

Wahyuni menambahkan, konsep pendidikan yang diterapkan di Sekolah Bina Bangsa bersifat gratis. Para siswa hanya dikenakan biaya untuk seragam sekolah. Selain melayani anak-anak karyawan perusahaan, sekolah ini juga terbuka bagi masyarakat sekitar. Saat ini tercatat sebanyak 380 anak dari desa binaan turut mengenyam pendidikan di Bina Bangsa.

Dalam upaya membentuk generasi yang unggul, sekolah-sekolah Bina Bangsa juga fokus pada pengembangan minat dan bakat siswa. Beragam kegiatan seperti seni tari, musik, berkebun, drum band, hingga teknologi informasi menjadi bagian dari kurikulum pengembangan diri. Pendekatan ini mendorong siswa meraih berbagai prestasi di tingkat kabupaten, provinsi, bahkan nasional.

Berkat capaian tersebut, Sekolah Bina Bangsa ditetapkan sebagai sekolah penggerak, sebuah program pemerintah yang bertujuan mempercepat peningkatan kualitas sekolah agar berkembang satu hingga dua tahap lebih maju.

Wahyuni berharap, program pendidikan yang dijalankan Yayasan Bina Bangsa dapat sejalan dengan upaya pemerintah dalam mencetak generasi unggul dan berdaya saing di masa depan.