Dolar AS Kehilangan Momentum, Yen Bangkit Setelah Sentuh Level Terendah

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 01 May 2026, 23:04 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Nilai tukar dolar AS melemah terhadap yen Jepang dan berpotensi mencatat penurunan mingguan terbesar sejak Februari 2026. Pergerakan ini terjadi setelah pasar mencium dugaan intervensi otoritas Jepang.

Pada perdagangan Jumat, 1 Mei 2026, dolar turun untuk hari kedua berturut turut terhadap yen. Kurs sempat jatuh dari 157,1 ke 155,49 yen sebelum kembali di kisaran 156,62 yen.

Dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut menyebut pemerintah Jepang membeli yen di pasar. Langkah itu dilakukan setelah yen sempat menyentuh 160,7 per dolar, level terlemah sejak Juli 2024.

Data Bank of Japan menunjukkan otoritas kemungkinan menggelontorkan hingga 5,48 triliun yen atau sekitar 35 miliar dollar AS. Nilai ini hampir setara intervensi besar pada Juli 2024.

Pejabat mata uang Jepang, Atsushi Mimura, juga menyoroti posisi spekulatif yang masih tinggi di pasar. Pernyataan itu dibaca investor sebagai sinyal pemerintah siap bertindak lagi.

Meski begitu, analis menilai efek intervensi belum tentu bertahan lama. Tanpa dukungan kenaikan suku bunga atau perubahan kebijakan, penguatan yen bisa cepat memudar.

Selama ini yen tertekan akibat selisih suku bunga Jepang dan Amerika Serikat yang masih lebar. Investor lebih tertarik memegang aset berbasis dollar AS dengan imbal hasil lebih tinggi.

Kenaikan harga minyak global akibat konflik Iran juga menambah tekanan pada yen. Jepang sebagai negara importir energi menghadapi biaya impor yang lebih mahal.

Secara mingguan, dolar turun sekitar 1,7 persen terhadap yen. Ini menjadi pelemahan mingguan terbesar sejak awal Februari.

Di sisi lain, euro dan pound sterling ikut menguat terhadap dolar AS. Pasar kini menanti arah kebijakan suku bunga bank sentral utama dunia pada Juni mendatang.