Harga Minyak Masih Tegang, Iran dan AS Belum Sepakat Soal Hormuz

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 01 May 2026, 23:05 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Iran mengirim proposal baru kepada Amerika Serikat di tengah upaya meredakan konflik. Namun hingga kini, Selat Hormuz masih ditutup dan jadi titik utama kebuntuan.

Laporan Bloomberg menyebut proposal terbaru itu dikirim lewat Pakistan. Negara tersebut sebelumnya menjadi mediator dalam putaran negosiasi langsung bulan lalu.

Isi proposal belum diungkap secara rinci. Pemerintah Iran juga belum menjelaskan apakah tawaran itu mencakup isu nuklir atau pembukaan jalur pelayaran.

Selat Hormuz menjadi jalur vital perdagangan energi dunia. Sebelum konflik, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair global melintas di kawasan itu.

Presiden AS Donald Trump menegaskan blokade laut terhadap Iran akan tetap dipertahankan. Ia menilai tekanan ekonomi akan memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.

Sebaliknya, Iran menilai blokade tidak akan efektif. Pemerintah Teheran meminta pembatasan dihentikan lebih dulu sebagai syarat pembukaan kembali negosiasi dan Selat Hormuz.

Ketegangan ini langsung berdampak ke pasar energi global. Harga minyak Brent tercatat turun sekitar 3 persen ke level 110 dollar AS per barel, tetapi masih naik mingguan lebih dari 5 persen.

Di sisi militer, AS disebut menyiapkan opsi serangan terbatas jika negosiasi buntu. Washington juga mendorong pembentukan koalisi maritim untuk mengamankan jalur pelayaran.

Sementara itu, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan negaranya tetap melanjutkan pengembangan teknologi nuklir dan rudal. Ia juga menolak melepas kendali atas Selat Hormuz.

Tekanan ekonomi mulai terasa di Iran. Nilai mata uang negara itu dilaporkan kembali melemah ke titik terendah baru dalam beberapa hari terakhir.