JAKARTA, Cobisnis.com – PT MRT Jakarta (Perseroda) memesan 336 unit pintu tepi peron atau platform screen doors untuk mendukung pembangunan Fase 2A lintas utara–selatan rute Thamrin hingga Kota.
Pengadaan ini diperuntukkan bagi tujuh stasiun bawah tanah, yakni Thamrin, Monas, Harmoni, Sawah Besar, Mangga Besar, Glodok, dan Kota. Seluruhnya akan menggunakan tipe full height demi standar keselamatan maksimal.
Teknologi pintu tersebut disuplai oleh Panasonic dengan proses produksi dilakukan di China. Langkah ini menjadi bagian dari strategi efisiensi rantai pasok proyek.
Direktur Utama MRT Jakarta, Tuhiyat, menyampaikan bahwa perangkat tersebut kini telah memasuki tahap acceptance test sebelum dipasang di lapangan.
Untuk segmen Bundaran HI–Monas, unit pintu tepi peron sudah dalam proses pengiriman ke Jakarta. Penyelesaian segmen ini tetap ditargetkan rampung pada akhir 2027.
Pengadaan platform screen doors masuk dalam paket kontrak CP205 Sistem Perkeretaapian dan Rel yang digarap oleh Sojitz Corporation. Nilai kontraknya mencapai Rp 4,2 triliun.
Paket tersebut tidak hanya mencakup pintu peron, tetapi juga sistem gardu induk, distribusi daya, listrik aliran atas, persinyalan, telekomunikasi, SCADA, hingga rel.
Secara fungsi, pintu tepi peron menjadi pembatas antara area penumpang dan jalur rel. Sistem ini terintegrasi dengan persinyalan sehingga pintu otomatis terbuka saat kereta berhenti sempurna.
Selain faktor keselamatan, keberadaan pintu ini juga berdampak pada efisiensi energi. Pendingin udara di stasiun tidak terbuang ke terowongan sehingga konsumsi listrik bisa lebih terkendali.
Pada fase 1 yang beroperasi sejak 2019, pintu serupa di 13 stasiun sempat meraih penghargaan International Innovation Awards di Singapura. Penghargaan itu diberikan atas kontribusinya membentuk budaya antre yang lebih tertib.
Dengan tambahan 336 unit di fase 2A, MRT Jakarta tidak hanya memperluas jaringan, tetapi juga mempertegas standar keamanan dan kenyamanan transportasi publik ibu kota.
Proyek ini sekaligus menjadi simbol percepatan infrastruktur perkotaan, yang dampaknya tak hanya pada mobilitas warga, tetapi juga pada pertumbuhan ekonomi kawasan koridor pusat Jakarta.