JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran untuk segera serius terlibat dalam negosiasi penyelesaian perang. Peringatan ini muncul setelah Israel membunuh komandan angkatan laut Garda Revolusi Iran, yang disebut bertanggung jawab atas penyempitan Selat Hormuz.
Trump menekankan agar Iran membahas negosiasi sebelum terlambat, karena situasi saat ini telah mencapai titik kritis. Ia menyebut Iran telah hancur secara militer dan sulit bangkit kembali tanpa konsekuensi serius.
Kabar ini muncul bersamaan dengan laporan bahwa Washington mengajukan rencana perdamaian 15 poin kepada Teheran. Namun Iran membantah adanya pembicaraan resmi, meski pesan diplomatik tetap dipertukarkan melalui negara-negara sahabat.
Pakistan dikonfirmasi memfasilitasi komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran. Islamabad memanfaatkan hubungan jangka panjang dengan kedua negara untuk menyampaikan pesan dan mendukung jalannya negosiasi.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan pihaknya ingin mengakhiri perang dengan syarat sendiri. Ia menolak adanya tekanan eksternal, tetapi tetap membuka ruang untuk pertukaran pesan melalui pihak ketiga.
Negosiasi ini juga mendapat dukungan dari negara-negara regional lain seperti Turki, Mesir, dan Dewan Kerja Sama Teluk. Semua pihak menekankan pentingnya penyelesaian damai untuk mengurangi eskalasi di kawasan.
Trump mengingatkan bahwa jika Iran tidak serius, situasi akan mencapai titik tidak bisa kembali dan konsekuensinya akan sangat serius. Pernyataan ini disampaikan melalui media sosial dan menegaskan sikap tegas AS di wilayah strategis tersebut.
Selat Hormuz tetap menjadi titik sensitif, mengingat perannya sebagai jalur utama ekspor minyak global. Setiap eskalasi di kawasan ini bisa berdampak pada pasokan energi dan harga minyak dunia.
Situasi saat ini menjadi pengingat pentingnya diplomasi multilateral dan keterlibatan pihak ketiga untuk mencegah konflik meluas. Negara-negara di kawasan terus mengupayakan jalan damai demi stabilitas regional.
Masyarakat global terus memantau langkah AS dan Iran, sementara negara-negara lain yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah menilai negosiasi ini sebagai kunci menjaga kestabilan ekonomi dan pasokan energi.