JAKARTA, Cobisnis.com - Pasar smartphone di Asia Tenggara mengalami penurunan pengiriman sebesar 15 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II 2026.
Berdasarkan laporan terbaru lembaga riset Counterpoint Research yang dilansir GSM Arena pada Selasa (25/8/2026), kenaikan biaya produksi dan harga perangkat menjadi salah satu faktor utama yang menekan minat beli konsumen.
Di tengah pelemahan pasar tersebut, Samsung justru berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemimpin pasar smartphone Asia Tenggara.
Samsung Mendominasi Pasar Asia Tenggara
Samsung mencatatkan pangsa pasar sebesar 24 persen pada kuartal II 2026. Perusahaan asal Korea Selatan itu juga menjadi satu-satunya merek dalam lima besar yang mencatatkan pertumbuhan pengiriman positif.
Pengiriman smartphone Samsung meningkat 6 persen secara tahunan. Pangsa pasar tersebut juga meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025, ketika Samsung menguasai 19 persen pasar.
Posisi kedua ditempati Xiaomi dengan pangsa pasar 18 persen, yang relatif stagnan dibandingkan tahun sebelumnya.
Oppo berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 17 persen. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 22 persen.
Sementara itu, Transsion, perusahaan induk Infinix dan Tecno, menguasai 15 persen pasar dan berada di posisi keempat.
Apple melengkapi lima besar dengan pangsa pasar 9 persen. Transsion dan Apple masing-masing mengalami peningkatan pangsa pasar tipis dari tahun sebelumnya, yakni 14 persen dan 8 persen.
Segmen Smartphone Mengalami Pergeseran
Counterpoint Research juga mencatat perubahan pola pembelian konsumen berdasarkan segmen harga.
Segmen entry-level dengan harga di bawah US$150 mengalami penurunan paling tajam, yakni mencapai 38 persen secara tahunan.
Segmen menengah dengan harga US$250-US$499 juga turun 11 persen.
Sebaliknya, segmen upper mid-range dengan harga US$500-US$699 mengalami pertumbuhan signifikan hingga 74 persen.
Segmen flagship dengan harga di atas US$700 turut tumbuh positif sebesar 18 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut menunjukkan konsumen Asia Tenggara semakin mengalihkan pilihan dari perangkat murah menuju smartphone dengan spesifikasi dan fitur yang lebih tinggi.
Counterpoint Research memperkirakan tekanan terhadap pasar smartphone Asia Tenggara masih berlanjut hingga paruh kedua 2026.
Konsumen yang semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang serta terbatasnya fleksibilitas harga dari produsen dinilai dapat kembali menekan pengiriman smartphone di kawasan tersebut.