Trump Sebut Perdamaian Timur Tengah di Depan Mata, Israel Diminta Stop Gempur Lebanon

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 14 Jun 2026, 23:40 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Israel menghentikan serangan ke wilayah Lebanon. Pernyataan itu disampaikan setelah militer Israel kembali menggempur kawasan Beirut selatan.

Trump menilai peluang tercapainya perdamaian di Timur Tengah saat ini semakin terbuka. Ia menyebut proses menuju kesepakatan damai sudah berada pada tahap yang sangat dekat.

Menurut Trump, seluruh pihak yang terlibat dalam konflik harus menahan diri. Langkah tersebut dinilai penting agar momentum perdamaian yang sedang dibangun tidak kembali gagal.

Trump mengatakan kesepakatan yang sedang dirancang berpotensi membawa stabilitas baru bagi kawasan. Tidak hanya untuk Israel dan Lebanon, tetapi juga negara negara lain di Timur Tengah.

Ia juga mengkritik serangan terbaru yang dilakukan Israel ke Beirut. Menurutnya, operasi militer tersebut seharusnya tidak perlu terjadi di tengah proses diplomasi yang sedang berlangsung.

Meski mengakui hak Israel untuk mempertahankan diri, Trump menilai respons militer yang dilakukan terlalu berlebihan. Ia menyebut serangan yang menjadi pemicu tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka serius.

Pernyataan Trump muncul setelah militer Israel menyerang sejumlah target yang disebut sebagai basis Hizbullah di Beirut selatan. Operasi tersebut diklaim sebagai balasan atas serangan yang diarahkan ke wilayah Israel.

Serangan terbaru itu kembali menambah ketegangan antara kedua pihak. Padahal sebelumnya Israel dan Lebanon masih berada dalam kerangka kesepakatan gencatan senjata.

Di lapangan, dampak serangan terlihat cukup besar. Sejumlah bangunan dan fasilitas di kawasan Dahiyeh dilaporkan mengalami kerusakan akibat hantaman rudal.

Badan Pertahanan Sipil Lebanon menyebut tiga orang ditemukan tewas setelah serangan menghantam kawasan Ghoebeiry di pinggiran Beirut. Selain itu, sedikitnya 15 orang dilaporkan mengalami luka luka.

Pernyataan Trump menjadi sinyal bahwa Washington masih berupaya menjaga jalur diplomasi tetap terbuka. Namun meningkatnya aksi militer di lapangan membuat peluang perdamaian kawasan masih menghadapi tantangan besar.