Di Balik Perang AS-Iran, Qatar dan Pakistan Diam-diam Jadi Penentu Arah Perdamaian

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 14 Jun 2026, 19:30 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Korea Utara kembali menolak seruan denuklirisasi yang disampaikan Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang. Pyongyang menegaskan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir merupakan posisi yang tidak dapat diubah oleh tekanan dari negara mana pun.

Pernyataan tersebut muncul setelah ketiga negara menggelar pertemuan trilateral di Tokyo. Dalam agenda itu, Washington, Seoul, dan Tokyo kembali menegaskan komitmen mereka untuk mewujudkan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.

Melalui pernyataan resmi yang disiarkan KCNA, Korea Utara menyebut berbagai desakan terkait denuklirisasi tidak akan memengaruhi kebijakan nasionalnya. Pyongyang bahkan menilai isu tersebut sudah tidak lagi relevan untuk dibahas.

Pemerintah Korea Utara menegaskan kemampuan nuklir merupakan bagian penting dari strategi pertahanan negara. Menurut mereka, keberadaan senjata nuklir dibutuhkan untuk menjaga keamanan dan menghadapi tekanan militer dari luar.

Pyongyang juga menyoroti meningkatnya kerja sama pertahanan antara Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Jepang. Langkah tersebut disebut menjadi salah satu alasan Korea Utara terus memperkuat kemampuan militernya.

Sikap ini melanjutkan kebijakan yang diambil Korea Utara sejak gagalnya perundingan nuklir dengan Amerika Serikat pada 2019. Setelah proses diplomasi itu berakhir tanpa kesepakatan, pengembangan program senjata strategis Korut terus berjalan.

Sinyal serupa sebelumnya juga disampaikan Kim Yo Jong, saudara perempuan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un. Ia menegaskan kebijakan nuklir negara itu merupakan garis yang tidak dapat dinegosiasikan.

Di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, isu denuklirisasi juga tidak menjadi pembahasan dalam pertemuan terbaru Kim Jong Un dan Presiden China Xi Jinping. Kondisi tersebut memperlihatkan semakin sempitnya ruang kompromi dalam upaya penyelesaian masalah nuklir di Semenanjung Korea.